Selasa, 29 November 2011

Seandainnya aku jadi penulis dan guru


Seandainnya aku jadi penulis dan guru
                                                                 diganti
Seandainya aku jadi pelukis, guru  dan jadi kiyai keinginan bapakku
Menulis itu adalah sebuah aktifitas  pekerjaan yang tak pernah terpikir bahwa itu adalah mudah dilakukan saat kita sedang bekerja. Sudah lama menjadi guru belum tentu kita merasa pernah menulis, menulis itu bisa terjadi karena paksaan atau muncul karena hobby sehingga apa yang kita lakukan atau yang kita fikirkan tentang ide kreatif kita bisa ditulis. Saat disekolah sering kita berkomunikasi dengan orang tua melalui  tulisan kadang saling berbalas sampai beberapa lembar, semasa muda ada temanku yang rutin disetiap aktifitasnta terekam dalam buku diare tanpa terlewatkan setiap harinya aktifitasnya yang baik dan  yang jelek tertulis disana terutama masa muda lebih menjurus ketema asmara.
Sudah sering aku coba menulis setiap aktifitasku semasa aku kuliah namun tak tertahan lama, kebetulan aku senang dengan membuat katalog pameran  dalam isian pengantar biasanya aku coba untuk membuat isian pengantar sesuai dengan katalog yang ditulis  dengan bahasa kurator yang baik sehingga  begitu bagus. Sempat aku coba membuat cerita tentang diriku dan perjalan hidupku yang masih  seujung kuku. Memang perlu menyisihkan  waktu  untuk menulis, harapan bisa dibaca tak hanya untuk dirikita atau kleuarga tapi bisa bermanfaat bagi yang lainnya. Sebuah tulisan singkat tentamg perjalannku sebelum menjadi pelukis bukan penulis sesuai dengan permaintaan andai akau jadi penulis dan guru. Guru memang sering menulis  tetapi mungkin menulis yang dimaksud bukan itu aku tahu menulis yang sering dilakuakan teman teman terutama guru bahasa indonesia yang piawai memainkan kata dalam tulisannya sehingga bisa dimuat dibeberapa surat kabar dan majalah ternama. memang butuh waktu ketika kita sudah disekolah  anak-anaklah yang utama ketika kita sampai dirumah terasa capek dan cengkrama bersama keluargalah obatnya.
Mungkin semua beranggapan bahwa menulis itu menunggu inspirasi datang ketika ingin menuangkan karya tulisannya, seperti halnya aku melukis. Sudah hampir seminggu kanvas itu kosong walaupun cat, kuas dan alat-alat yang lain sudah siap  mununggu diruang lukisku tapi hasrat untuk itu belum ada. tetapi jika keinginnan itu muncul tengah malam pun mulai bekerja untuk melukiskan ide. Kadang harus dipaksa sehingga  nanti dengan berjalan muncul ide-ide baru. Aku rasa  menulis itu seperti itu gampang-gampang susah  kalau kita bisa menjalani dengan senang dan rutin kayaknya ide itu akan muncul terus. Seperti halnya melukis sering dilakukan  akan menambah ekploras kita tentang ide dan gagasan dalam membentuk sebuah karya. Tentunya kita butuh modal yaitu membaca. Seperti halnya melukis butuh inspitrasi dari apa yang kiata liahat seperti melihat pameran katalog-katalog pameran sebagai perbandingan sehingga bisa mngikuti perkembangan. Ini aku coba belajar menulis
Berawal dari uang 25 ribu aku berngkat kesurabaya tanpa ijin orang tua. Diam-diam aku daftar kuliah lewat jalur PMDK. Kebetulan tetanggaku seorang pelajar STMPAL surabaya menurut pengakuan dia hafal dengan kota surabaya paling tidak tahu tentang surabaya yang begitu metropolitan dalam bayangnku surabaya sama halnya dengan jakarta karena memang aku jarang kesurabaya mungkin beberapa tahun yang lalu saat akau SD  kekebun binatang itu yang aku ingat. karena dorongan temen temanku di kelas 3 IPA kebetulan masuk jurusan  itu. Mereka  selalu memberikan semangat kepadaku untuk melanjutkan kuliah dijurusan seni rupa karena sudah terlihat bakat dan kemampuanku dibidang seni, Tinggal 3 hari penutupan  aku putuskan berangkat.aku berangkat pagi-pagi untuk mengejar waktu supaya sampai disurabaya tidak terlalu siang. Untuk mendapatkan legalisir rapot dan pengantar dari sekolahku tidak Cuma-Cuma, aku harus menyelesaikan papan-papan data untuk ditulis lagi karena adanya akreditasi sekolah sebelum dapt tanda tangan dari Kepala sekolah waktu itu. Butuh waktu hampir 2 hari untuk mengerjakan karena memang sudah dikenal kalau tulisanku lumayan bagus disekolah yang biasa membuat dekorasai acara disekolah. 
 Sangat disayangkan memang aku berangkat tanpa ijin sama ibukku, sesampai diterminal aku bingung begitu ramai lalu lalang orang dengan wajah muram garang tampa ada rasa saling sayang. Setelah naik bus mini akau mulai mencari microlet bersama temanku yan g mengantarku, aku sendiri belum tahu alamat ketintang itu dimana? Menurut temanku untuk sampai disana harus naik bis mini dulu lalu naik microlet sebanya k 3 kali baru bisa sampai diketintang. Benar aku naik bis mini dulu lalu naik  3 microlet baru  aku sampai diketintang hampir jam 10 pagi padahal, aku berangkat jam 6 pagi dari rumah. Ternyata ditempat  tes tersebut sudah dimulai dari jam 8 jadi aku terlambat petugas memang mengoda kalau pendaftaran sudah ditutup, Dan tidak diperbolehkan aku masuk mengikuti tes. Tetapi ada seorang dosen senior yang mendekatiku dan menayakan dari mana mas? Saya menjawab ‘”maaf saya terlamabat ibu, karena saya dari gresik” dan akhirnya dosen itu mempersilahkanaku masuk mengikuti tes PMDK( tes bakat dan minat)menurut dosen tersebut,  aku ditunggu karena satu-satu paserta dari gresik. Hampir satu jam aku mulai mengerjakan tes dan alhamdulillah selesai. Aku liat kanan kiri gambar teman-teman peserta yang lain begitu bagus- bagus subhanaallah, aku coba bertanya dan kenalan ternyata memang mereka banyak dari sekolah jurusan seni rupa SMSR jadi sudah terlatih tetapi aku tidak patah semangat dan minder walaupun aku dari sma biasa aku yakin aku bisa karena Allah memberikan kemampuan dari masing-masing orang . Setelah selesai alu kembali kegresik bersama teman yanmg mengantarku tadi sambil aku hafalkan jalan-jalan disurabaya karena jika nanti aku diterima tidak mungkin aku minta diantarkan lagi aku harus bisa berangkat sendiri.
Hampir 1 bulan aku menunggu dan menuggu  menyimpan rahasia itu tanpa sepengetahuan orang tua. tiba-tiab aku dipanggil Bapak Kepala sekolah, akupun kaget takutnya ada masalah denganku. Persaanku panik dan takut   aku disodori surat kopnya universitas  negeri surabaya Bapak kepala Sekolah menyuruhku membuka surat tersebut Ternyata alangkah bahagianya tertulis didalam surat itu berbunyi” Ahmad sifin diterima di jurusan seni rupa UNESA lewatr jalur PMDK. Alhamdulillah sujud syukur aku diterima, dan ternyata kebahagiaan itu tak lama  terbersik dalam ingatanku jiak aku belum bilang kalau aku ikut daftar kuliah apalagi langkah selanjutnya kau harus mendaftar ulang bahwa siap untuk kuliah di perguruan tinggi tersebut. Aku pulang kerumah dengan segudang strategi untuk menyampaikan keinginanku untuk elanjutkan  kuliah.setelah samapai dirumah aku mandi sholat aku sempatkan duduk diteras bersama ibukku. Lidahku mulai keluh untuk mengatakan sesuatu. “Emak aku pingin kuliah disurabaya, dengan nada pelan ibukku menjawab “sudahlah tidak usah aneh-aneh,  ikut ngaji (pondok) saja!  enak gak butuh banyak biaya dan juga dekat rumah. Aku bilang “ mak aku ini sudah diterima dijurusan seni rupa mohon maaf kemaren aku daftar tanpa ijin emak” dijawab dengan suara lantang’ kuliah-kuliah memang kuliah itu apa ndak butuh biaya yang banyak! Darimana uang kita ini orang ndak punya buat makan saja susah, apalagi buat kuliah! aku jawab untuk meradam ibu agar direstui” aku nanti bias bantu-bantu ngajar ngelesi privat sambil kerja mak.
 Ibukku pun berfikir sambil berkata” ya sudah nanti kiat bicarakan lagi dengan bapak,  karena bapak belum pulang dari kerja’.
Pagi hari ketika aku bangun sholat subuh sudah siap sarapan pagi biasa orang desa itu kalau makan harus pagi karena setelah makan pagi harus berangkat kesawah atau tambak . Dimeja makan yang terbuat dari bambu  bapak mulai membuka pembicaraan “katanya ibumu kamu mau kuliah apa sudah kau pikirkan dengan matang keputusanmu itu apalagi ambil jurusan Seni Rupa nantinya jadi apa nak? Aku jawab” inggih pak aku mau kuliah jurusan seni rupa, ini keguruan nantinya insyaallah akan jadi guru!”bapak menjawab” apa tidak enak jadi kyai nagaji di pondk saja bisa dekat orang tua lagi, kukliah kok kuliah gambar!” ibukku datang  ke meja “ya sudah bapak ibu merestui kamu untuk kuliah maslah biaya nati kita usahakan tetapi nati jika disana harus hati-hati dan sungguh sungguh karena kamu ini asalnya orang desa oarang yang tidak punya tidak usah macam-macam. Jurusan seni rupa didekat sini saja apa tidak ada tidak usah jauh kesurabaya! Aku jawab “Yang ada disurabya mak! ya sudah jawab emak ”inggih terima kasih bapak, terima kasi ibu! Langsung aku sungkem dan  kuciumi bapak ibukku. Sejak itu aku siapakan berkas- berkasnya untuk mendaftar ulang  dan juga persiapan awal untuk peralatanku kuliah karena aku harus cari tempat kos untuk menginap. sedikit demi sedikit masalah sudah terselasaikan saat nya aku mulai berangakat kuliah. Sekarang aku sudah tahu untuk bisa sampai diketintang tidak perlu lagi harus naik microlet samapi 3 kali, cukup dengan naik bis mini dan bis kota  bisa langsung sampai di jalan ketintang surabaya alamat Kampus UNESA ketintang. Secara kebetulan setelah registrasi ulang aku berdiri dipinggir jalan sambil menunggu angkutan ada seorang mahasiswa senior yang mengajak kenalan, “  dek calon mahasiswa baru ya? darimana? Aku jawab” iya mas dari gresik dia bertanya lagi” sudah dapat kos belum , kalau belum ketempatku saja! Masih ada yang kosong. Namanya untung itu tidak kemana tak perlu mencari malah ditawari, aku teingat kata guruku” kalau orang yang suka menolong natinya akan ditolong orang. Aku ikuti teman baruku mahsiswa senior yang tinggal skripsi saja untuk ngekos ditempatnya. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari kampus cukup jalan hampir 100 meter dari tempat kosku.
                                                                BERSAMBUNG
Karya: Ahmad Sifin S.pd

1 komentar: