Rabu, 19 September 2012

cara menggambar

         Menggambar foto wajah selain sebagai hobi dapat juga berguna untuk pengembangan kemampuan visual dalam menggambar sebuah objek yang realis, seperti objek manusia atau objek tiga dimensi lainnya dalam bidang dua dimensi.
Terdapat dua macam menggambar foto wajah; yang pertama yaitu memindahkan wajah dalam foto ke bidang gambar semirip mungkin dan yang kedua memindahkan wajah dalam foto ke bidang gambar hanya dengan mengambil esensi dari wajah yang akan digambar. Pada kasus yang pertama dibutuhkan kemampuan visual yang cermat serta pengetahuan dasar mengenai anatomi wajah manusia. Sedangkan pada kasus yang kedua selain memiliki kamampuan visual dan pengetahuan anatomi wajah, juga dibutuhkan kemampuan membaca karakter dari objek.
Beberapa tips dalam menggambar foto wajah:
  1. untuk mempermudah proses penggambaran, sangat dianjurkan untuk membiasakan mata kita melihat objek yang akan digambar, dalam hal ini foto wajah yang akan digambar
  2. Peletakan objek yang akan digambar juga sebaiknya berdekatan atau seolah-olah berdekatan dengan bidang gambar
  3. Arah mata kita harus selalu berpindah-pindah dari bidang objek ke bidang gambar.
KONSEP DASAR MENGGAMBAR WAJAH
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Berikut adalah proses cepat bertahap penggambaran foto wajah hitam-putih menggunakan pensil;
  • Setelah terbiasa melihat objek yang akan digambar, mulailah menarik garis sketsa menggunakan pensil F, H atau HB untuk membuat bidang mata kemudian diteruskan ke bidang hidung dan mulut. Setelah itu buat bidang kepala, telinga dan rambut. Setelah selesai maka sketsa gambar kepala ini menjadi acuan untuk menggambar bagian tubuh lainnya. Tidak perlu menggambar keseluruhan objek seperti terlihat dalam foto, dengan cara ini bisa menambah keindahan pada gambar.
  • Pertegas garis-garis sketsa yang sudah ada menggunakan pensil 2B, sehingga objek yang tergambar mulai terlihat bentuknya. Seperti biasa mulailah dari mata, karena bentuk mata adalah kunci keberhasilan dari seluruh proses. Pada tahap ini, memori kita terhadap wajah asli sang objek (bukan dalam foto) sangat dibutuhkan. Diantaranya memori mengenai lekukan-lekukan wajahnya dan beberapa ekspresi wajahnya. Hapus garis-garis sketsa yang tidak diperlukan apabila mengganggu.
  • Setelah selesai mempertegas garis sketsa, maka mulailah memberi arsiran sesuai pencahayaan dalam foto, dimulai dari mata. Cukup dengan arsiran kasar mengunakan pensil 2B, jangan terlalu runcing atau terlalu tumpul. Berikan karakter garis pada bidang-bidang tertentu; seperti pipi, hidung, telinga dan lekukan kain pada baju. Pada tahap ini gambar akan terlihat seperti komik.
  • Sentuhan akhir menggunakan pensil mulai dari HB hingga 6B (menggunakan HB dan 2B sudah cukup). Pertegas lagi garis-garis tepi serta garis-garis karakter menggunakan pensil 2B runcing. Rapatkan arsiran menggunakan pensil HB tumpul, kemudian timpa dengan pensil 2B tumpul. Untuk menambah hasil yang lebih realis, gosok hasil arsiran dengan lembut menggunakan ujung jari, kapas atau penghapus. Setelah semuanya selesai, untuk menambah nilai seni dan keindahan dari gambar tersebut, bubuhkan tandatangan Anda.
  • Pada teknik menggambar foto wajah berwarna selain dibutuhkan kemampuan seperti pada menggambar hitam putih juga dibutuhkan kemampuan dalam pencampuran warna, ini dikarenakan warna kulit manusia bukan merupakan warna primer. Pencampuran warna juga tidak hanya dari satu media saja melainkan bisa dari beberapa media atau biasa disebut mix-media.
  • Mix-media dapat dilakukan dengan mencampur dua media pewarna seperti pensil warna dengan soft pastel, pensil warna dengan studio marker, cat air dengan pensil warna atau yang paling sederhana pensil warna dengan pensil grafit dan sebagainya. Dari pengalaman penulis mix-media bisa diterapkan sampai empat media pewarna; pensil grafit, soft pastel, pensil warna dan studio marker. Tahapannya adalah sebagai berikut;
  • Setelah sketsa menggunakan pensil grafit, gunakan soft pastel sebagai pewarna dasar kemudian gunakan pensil warna sebagai penegas warna dasar. Pertegas garis sketsa menggunakan pensil grafit runcing atau pensil warna runcing berdasarkan warna alami pada objek kemudian gunakan pensil warna tumpul untuk memberikan efek kedalaman dan gelap-terang. Agar arsiran menjadi halus lakukan gosokan perlahan menggunakan kapas atau cotton bat. Terakhir gunakan studio marker untuk highlights dan warna kontrasnya, sambil di gosok dengan jari atau cotton bat selagi marker masih basah.
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Screenshot
Sumber : http://korananakindonesia.wordpress.com

Selasa, 03 Juli 2012

lukisan palsu

Kisah Bos Tembakau Diguncang Lukisan Palsu

TEMPO.CO, Jakarta - Dunia seni rupa Indonesia terguncang ketika kolektor kawakan dr. Oei Hong Djien membuka museum seni rupa di Magelang, Jawa Tengah, April lalu. Museum seninya di Magelang menyajikan banyak lukisan Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio, yang diduga palsu. Sejumlah kalangan penikmat seni, juga ahli waris para pelukis mengkritiknya.

Siapa sebenarnya Oei Hong Djien? Lelaki 73 tahun itu dikenal sebagai "raksasa" seni rupa Indonesia. Koleksinya lebih dari 2.000 buah, yang jika ditaksir nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Sudah jadi rahasia umum jika ia juga dikenal sebagai "sinterklas" yang gemar mengangkat perupa muda Yogyakarta menjadi perupa sukses. Ia bahkan dijuluki The Godfather perupa kontemporer Indonesia. (Baca: Diduga Palsu, Koleksi Lukisan Oei Hong Bikin Geger  )

"Setiap hari saya selalu pandang terus-menerus koleksi saya. Saya makin yakin. Bila ada yang menuntut menurunkan, harus ada bukti sangat kuat," katanya.

Oei Hong Djien lahir dari keluarga pengusaha tembakau. Meski lulus sebagai dokter dari Universitas Indonesia dan mengambil spesialisasi patologi anatomi di Katholieke Universiteit Nijmegen, Belanda, Oei memilih menjadi grader (penguji kualitas tembakau) di PT Djarum. Dia dibesarkan di Semarang, Bandung, dan Jakarta. Oei tumbuh dan akrab di rumah yang selalu penuh lukisan, terutama saat dia berdiam di rumah sepupunya di Bandung, Oei Sian Yok, kritikus seni di mingguan Star Weekly. 

Oei menjadi fenomena karena ia aktif menularkan hobinya mengoleksi karya seni kepada rekan-rekan bisnisnya, para pedagang tembakau. "Semula mereka cuma datang untuk dagang. Tapi, karena sering melihat lukisan di rumah saya, mereka akhirnya tertarik juga," kata Oei. Bahkan dia mampu menyebarkan hobinya kepada pengusaha-pengusaha papan atas, seperti Sunarjo Sampoerna, putra taipan Boedi Sampoerna. Ia menjadi salah satu kolektor panutan paling terhormat dan berpengaruh di Asia. 

Oei sebetulnya hendak memberi kejutan. Di museumnya, ia memamerkan karya Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio, yang selama ini jarang diketahui publik. Oei yakin masih banyak karya para maestro Indonesia yang tersembunyi. "Seorang kolektor harus memiliki visi mencari. Justru itu sumbangannya untuk sejarah seni rupa," katanya. 

Yang jadi persoalan adalah seorang kolektor tak hanya harus mencari, tapi juga memastikan bahwa barang yang dibeli memang asli. Apalagi jika lukisan itu berniat dipamerkan ke publik, maka sang kolektor (dan kurator) dibebani tanggung jawab luar biasa. Saat membeli, Oei bertumpu pada mata dan perasaannya sendiri untuk memastikan keaslian lukisan tanpa bantuan ahli lain. Bahkan, untuk membuka museum yang tiketnya dijual seharga Rp 100 ribu per kepala kepada masyarakat umum tersebut Oei menulis sendiri buku tentang apa yang ada dalam museum barunya itu tanpa melibatkan kurator atau sumber lain. 

Untuk memastikan keaslian lukisan tersebut, ia khusus bertanya kepada sahabat tepercayanya di Temanggung, pelukis Kwee In Tjiong, 74 tahun. In Tjiong adalah murid Sudjojono yang juga dikenal sebagai pedagang tembakau.

"Menurut In Tjiong asli," kata Oei. Tempo berusaha mengecek kepada Intjong, tapi dia tampak menghindar. Saat ditelepon, belum-belum ia mengatakan, "Saya tidak tahu lukisan palsu."

Selasa, 15 Mei 2012

DINAMIKA PERKEMBNAGAN SENI KALIGRAFI

Berbeda dengan belahan dunia Islam pada periode-periode yang disebut terdahulu, Indonesia tidak melahirkan corak, gaya atau aliran kaligrafi yang khas. Pertumbuhan yang ada hanyalah pertumbuhan pemakaian kaligrafi yang ada untuk kebutuhan-kebutuhan primer yang bersifat fungsional seperti untuk menyalin Alquran atau teks-teks keagamaan yang berkembang ke aneka lukisan di pelbagai media.
            Dilihat dari dinamika perkembangannya, masa-masa penggunaan dan para seniman kaligrafi di Indonesia dapat dibagi kepada beberapa angkatan:


1.            Angkatan Perintis

kedatangan Islam di Indonesia. Bukti kaligrafi paling tua terdapat pada nisan-nisan kuno yang sebahagiannya dibawa dari luar Indonesia. Sedangkan bukti yang lebih mutakhir diperoleh dari sumber-sumber media seperti kitab, mushaf Alquran tua atau naskah perjanjian (qaulul haq)..
Aksara Arab pada angkatan ini, digunakan pula untuk naskah-naskah berbahasa Melayu atau Indonesia yang disebut Pegon, huruf Jawi atau huruf Melayu. Kaligrafi lafal La ilaha illallah, Muhammadun Rasulullah dikibarkan pula di panji-panji peperangan terbuka antara pasukan Islam dan non-Islam di Nusantara.
Pada abad ke-18 sampai abad ke-20, kaligrafi tidak lagi bersumber pada makam, tetapi beralih kepada kegiatan kreasi seniman Indonesia yang diwujudkan dalam aneka media seperti kertas, kayu, logam, dan medium lainnya. Banyak Alquran tua yang ditulis pada waktu ini seiring hadirnya kertas impor pada abad ke-17.  Sejak abad ke-17 dan sesudahnya, ada kecenderungan seniman muslim untuk menggambar makhluk bernyawa dengan lafal ayat-ayat Alquran, kaul ulama atau simbol kepahlawanan Ali ibn Abi Thalib (kaligrafi Macan Ali) dan Fatimah. Karya seperti ini biasanya merupakan produk keraton Cirebon, Yogyakarta, Surakarta atau Palembang. Sampai tahun 1960-an, lukisan kaligrafi berwujud binatang burak atau wayang banyak ditemukan di pelosok Sumatera dan Jawa.
Sampai akhir periode ini, tidak ada khattat atau seniman kaligrafi yang dikenal namanya. Sementara tipe-tipe huruf yang digunakan mengacu ke gaya-gaya Kufi, Naskhi, Sulus, Muhaqqaq, Raihani, Tauqi, dan Riqa’ yang dikenal di Timur Tengah. Kufi dan Naskhi paling banyak digunakan pada makam dan naskah kuno.


2.            Angkatan Orang Pesantren

Kaligrafi mengalami pertumbuhan seiring pertumbuhan pesantren yang dirintis oleh para wali. Pesantren perintis dikenal antara lain Giri Kedaton, Pesantren Ampel Denta di Gresik, dan Pesantren Syeikh Qura di Karawang. Pelajaran kaligrafi diberikan mengiringi pelajaran Alquran, fikih, tauhid, tasawuf, dan lain-lain. Tulisan yang diajarkan mula-mula sangat sederhana dan belum bernilai estetis, namun masih mempertimbangkan gaya-gaya Kufi, Naskhi, dan Farisi yang asal condong ke kanan.
Kesederhanaan tulisan nampak pada anatomi huruf yang kurang harmoni dengan kaidah, digunakannya peralatan tulis yang bersahaja seperti tinta dari arang kuali atau asap lampu (blendok), dan penggunaan media yang hanya terbatas pada kertas. Pelajaran khat ini umumnya tidak secara resmi diajarkan dan masuk kurikulum, kecuali di beberapa pesantren seperti Pondok Moderen Gontor dan cabang-cabangnya. Buku-buku kaligrafi juga belum banyak dikenal. Buku pelajaran khat pertama keluar tahun 1961 berjudul Tulisan Indah karangan Muhammad Abdul Razzaq Muhili, seorang khattat pertama yang paling aktif menulis khat di buku-buku agama, disusul 10 tahun kemudian (1971) buku Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab karangan Abdul Karim Husein dari Kendal.
Pelopor angkatan ini adalah KHM Abdul Razzaq Muhili dari Tangerang, H. Darami Yunus dari Padang Panjang, H. Salim Bakasir, Prof. HM Salim Fachry (penulis Alquran Pusaka atas titah Presiden Soekarno) dari Langkat, dan KH Rofi’i Karim dari Probolinggo.
Angkatan teraktif yang menyusul kemudian sampai angkatan termuda tahun 1990-an antara lain: Muhammad Sadzali, KHM Faiz Abdul Razzaq dan M. Wasi Abdul Razzaq (ketiganya murid dan anak-anak Abdul Razzaq), K. Mahfuzh Hakim dari Ponorogo, Rahmat Arifin dari Malang, D. Sirojuddin AR (murid Abdul Razzaq dan Salim Fachry) dari Cirebon, Ishak dari Jakarta, Nur Aufa Shiddiq dari Kudus, Ali Akbar dari Purworejo, Chumaidi Ilyas dari Bantul, H. Irhash A. Shamad dari Padang, dan M. Misbahul Munir (murid Rofi’i Karim) dari Gresik. Intensitas pengembangan kaligrafi di Indonesia selanjutnya dipelopori Sirojuddin dengan menulis banyak buku kaligrafi, pelatihan kader di pelbagai wilayah,  dan mendirikan Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Jakarta tahun 1985 dan Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi tahun 1998.
Sejak tahun 1960 hingga 2000-an, pesantren juga memunculkan para khattat yang sering mengkhususkan diri pada penulisan mushaf, buku agama, dan dekorasi masjid dengan mengkombinasi gaya-gaya Sulus, Naskhi, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Kufi, dan Riq’ah. Di antara pelopor dalam bidang ini adalah H. Azhari Noor (dekorator Masjid Agung Al-Azhar Jakarta), H. Amir Hamzah Zaman, dan H. Basyiroen Hasan, disusul angkatan muda seperti Abdul Azis Asmuni, Iskandar Syatiri, Eddy Syakroli, Mahmud Arham, Momon Abdurrahman Syarif, Ujang Badrussalam, Isep Misbah, Edi Amin, Muksin Sudirja, Syaharuddin, dan lain-lain.
Tradisi menghiaskan kaligrafi di bangunan masjid ini tergolong ke masa moderen, sebab dari data sejarah perkembangan masjid kuno di Indonesia, jarang atau tidak ada karya kaligrafi Islam di masjid kuno hingga abad XVI yang asli dibuat di zamannya, kecuali sekedar penggunaan huruf Jawi seperti di Masjid Mantingan, Jepara dan Masjid Sendangduwur di Paciran, Jawa Timur.
 
3.      Angkatan Pendobrak dan Pelukis      

Pada saat masyarakat semakin sadar akan arti dan pentingnya seni kaligrafi, muncullah suatu gerakan untuk “lebih menyadarkan” para khattat/kaligrafer dan seniman, khususnya kalangan muda, untuk lebih meningkatkan apresiasi dan teknik mengolah kaligrafi di aneka media yang tak terbatas. Gerakan ini muncul di tahun 1970-an seiring kemunculan para pelukis yang mempopulerkan apa yang kemudian disebut “lukisan kaligrafi” atau “kaligrafi lukis”, untuk membedakannya dari “kaligrafi murni” atau “kaligrafi tradisional” yang dikenal selama ini.
Pembawa gerakan ini adalah para seniman kampus seni rupa yang dipelopori oleh Ahmad Sadali (ITB Bandung, asal Garut), diiringi kemudian oleh A.D. Pirous (ITB Bandung, asal Aceh), Amri Yahya (ASRI Yogyakarta, asal Palembang), dan Amang Rahman (AKSERA Surabaya, asal Madura). Para tokoh seni rupa ini memanfaatkan keluwesan aksara Arab di mana sosok kaligrafi sangat tegas ditonjolkan dengan penyerasian unsur-unsur rupa lainnya yang telah lebur dalam gaya pribadi masing-masing seniman dengan memandang “kaligrafi sebagai bagian integral” dari ide dasar lukisan yang bermakna religius. Para seniman rupa ini memandang kaligrafi benar-benar mengandung unsur-unsur ideoplastis yang tidak hanya selesai pada huruf.
Popularitas angkatan dan “mazhab kaligrafi lukis” ini mulai muncul dalam Pameran Lukisan Kaligrafi Islam Nasional saat MTQ Nasional XI di Semarang (1979) dan pameran pada Muktamar Pertama Media Massa Islam se-Dunia di Balai Sidang Jakarta (1980) yang diikuti oleh pameran-pameran selanjutnya.
Cara menggarap “lukisan” kaligrafi yang sangat mementingkan latarbelakang pewarnaan yang diperoleh dari kepekaan rasa, bersifat spontan dan bebas sehingga kerap mengabaikan grammar kaligrafi tradisional ini segera saja diikuti secara luas oleh kaula muda di Tanah Air. Pelukis generasi kedua yang muncul kemudian, dapat disebut di antaranya, Syaiful Adnan, Hatta Hambali, dan Abay D. Subarna, disusul kemudian oleh Firdaus Alamhudi, Hendra Buana, Yetmon Amier, Said Akram, Agoes Noegroho, Abdul Aziz Ahmad, dan lain-lain. Teknik baru ini segera menarik dan diikuti para khattat bahkan kalangan yang “sekedar senang” terhadap kaligrafi karena memungkinkan digarap dalam teknik yang bermacam-macam seperti teknik batik dan tekstil, teknik grafis, teknik bulu, teknik ukir kayu, dan bermacam teknik pengerjaan logam, selain tampilan aneka bentuk ekspresi tiga dimensional yang menawarkan citra kaligrafi dalam seni rupa Islam moderen.
Meskipun tidak melahirkan gaya khas Indonesia, kecuali Syaiful Adnan dengan gaya Syaifulinya, beberapa goresan bebas para pelukis kaligrafi Indonesia kerap mendekati pola kaligrafi kontemporer yang lahir bersama kelahiran seni rupa kontemporer tahun 1970-an. Gaya-gaya kaligrafi ini adalah: Kontemporer Tradisional, Kontemporer Figural, Kontemporer Simbolik, Kontemporer Ekspresionis, dan Kontemporer Abstrak.


4.      Angkatan Kader MTQ

Perkembangan kaligrafi semakin semarak sejak dijadikan salahsatu cabang yang dilombakan dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dari tingkat nasional sampai daerah di seluruh Indonesia. Cabang yang diberi nama Musabaqah Khattil Qur’an (MKQ) ini selain menarik peminat, juga berhasil membibitkan kader-kader penulis dan pelukis kaligrafi dari sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Dari sejumlah peserta MKQ yang menyebar di pelbagai daerah, muncul para ahli bidang penulisan naskah, hiasan mushaf, dan dekorasi yang dikompetisikan.
MKQ berpengaruh luas dan menjadi proyek percontohan lomba-lomba kaligrafi di pelbagai instansi dan pada peringatan hari-hari besar Islam. Kemunculan lomba-lomba kaligrafi ini memicu minat di pelbagai kalangan dan ikut mendorong produksi karya di galeri-galeri dan pasar-pasar seni.
Gerakan pembinaan via MTQ yang melahirkan banyak kader dan juara kaligrafi berbuntut pada ramainya keikutsertaan para khattat/khattatah dan seniman kaligrafi Indonesia dalam Peraduan Menulis Khat Asean di Brunei Darussalam dua tahun sekali yang selalu dimenangkan (70 %) oleh peserta dari Indonesia. Beberapa di antara mereka juga tekun mengikuti International Calligraphy Competition di Turki empat tahun sekali. Para pelomba ini sangat menguasai gaya-gaya Naskhi, Sulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Kufi, dan Riq’ah dan umumnya lihai menentukan kombinasi warna-warna dan ornamen yang menjadi komponen lomba.
Dari lomba kaligrafi yang dimulai pada MTQ Nasional XI (1981) di Banda Aceh muncul nama-nama juara yang selanjutnya aktif berkarya di percetakan, pendekorasian masjid, penulisan mushaf, produksi lukisan atau mengajar kaligrafi, dapat disebut di antaranya Darami Yunus, Muhammad Wasi, Mahmud Arham, Humaidi Ilyas, M. Noor Syukron, Ahmad Hawi Hasan, Isep Misbah, Ery Khaeriyah, Yayat Suryati, Ernawati, Nurkholis, Toni Salaf, Moh. Midhar Achsan, Hasanuddin, dan lain-lain.
Para juara aktif MKQ, selain diikuti kader-kader pelomba, telah pula membakar semangat juara-juara lain untuk mengikuti aktifitas mereka

Minggu, 01 April 2012


Seandainya aku jadi pelukis, guru  dan jadi kiyai keinginan bapakku

Berawal dari keinginan orang tua aku masuk di sekolah SMU swasta yang masih kental dengan pendidikan agama karena sekolah tersebut dibawa naungan pondok pesantren tertua di wilayah gresik. Besar keinginanku untuk bisa masuk di sekolah negrei namun orang tuaku selalu ditidak mengijinkan aku untuk pindah mnegambil sekolah negeri. Aku memang tidak tinggal dipondok namun tempat bermainku breda dipondok karena memang teman-temanku banyak anak pondok pesantren. Mulai dari sekolah dasar akun sudah diarahkan untuk sekolah madrasah yang trekenal kental pendidikan agamnya. Dari situ aku sudah terbiasa dengan perilaku dan dat istiadat pesantren. Walaupun aku di SMU namun nuansa pondok masih terasa, dari sekian banyak siswa hampir 50 persen masuk ke PTN ternama karena memang terkenal dengan lulusan dengn nilai terbaik diwilayah tersebut. Saat itu akau kelas 3 SMU semster akhir. Banyak teman-temanku yang mulai bingung menentukan jurusan atau memilih perguruan Tinggi yang akan dipilh  namun tidak ada sedikit fikiran aku untuk bisa melanjutkan kuliah.aku sendiri bingung kenapa teman-temanku selalu memberikan semangat dan banyak informasi supaya aku melanjutkan kuliah.
Dari situlah keinginan untuk kuliah mulai muncul dan mengejar untuk mengejar impian  tumbuh lagi.tidak banyak uang saku yang diberiakn ibukku untuk bekal kesekolah namun aku selalalu sisihkan kusimpan dicelenganku.berawal dari uang 25 ribu aku berngkat kesurabaya tanpa ijin orang tua. Diam-diam aku daftar kuliah lewat jalur PMDK. Kebetulan tetanggaku seorang pelajar STM PAL surabaya menurut pengakuan dia hafal dengan kota Surabaya paling tidak tahu tentang surabaya yang begitu metropolitan dalam bayangnku urabaya sama halnya dengan jakarta karena memang aku jarang kesurabaya mungkin beberapa tahun yang lalu saat akau SD  kekebun binatang itu yang aku ingat. karena dorongan teman temanku di kelas 3 IPA kebetulan masuk jurusan  itu. Mereka  selalu memberikan semangat kepadaku untuk melanjutkan kuliah dijurusan seni rupa karena sudah terlihat bakat dan kemampuanku dibidang seni, Tinggal 3 hari penutupan  aku putuskan berangkat.aku berangkat pagi-pagi untuk mengejar waktu supaya sampai disurabaya tidak terlalu siang. Untuk mendapatkan legalisir rapot dan pengantar dari sekolahku tidak Cuma-Cuma, aku harus menyelesaikan papan-papan data untuk ditulis lagi karena adanya akreditasi sekolah sebelum dapt tanda tangan dari Kepala sekolah waktu itu. Butuh waktu hampir 2 hari untuk mengerjakan karena memang sudah dikenal kalau tulisanku lumayan bagus disekolah yang biasa membuat dekorasai acara disekolah. 
 Sangat disayangkan memang aku berangkat tanpa ijin sama ibukku, sesampai diterminal aku bingung begitu ramai lalu lalang orang dengan wajah muram garang tampa ada rasa saling sayang. Setelah naik bus mini akau mulai mencari microlet bersama temanku yan g mengantarku, aku sendiri belum tahu alamat ketintang itu dimana? Menurut temanku untuk sampai disana harus naik bis mini dulu lalu naik microlet sebanya k 3 kali baru bisa sampai diketintang. Benar aku naik bis mini dulu lalu naik  3 microlet baru  aku sampai diketintang hampir jam 10 pagi padahal, aku berangkat jam 6 pagi dari rumah. Ternyata ditempat  tes tersebut sudah dimulai dari jam 8 jadi aku terlambat petugas memang mengoda kalau pendaftaran sudah ditutup, Dan tidak diperbolehkan aku masuk mengikuti tes. Tetapi ada seorang dosen senior yang mendekatiku dan menayakan dari mana mas? Saya menjawab ‘”maaf saya terlamabat ibu, karena saya dari gresik” dan akhirnya dosen itu mempersilahkanaku masuk mengikuti tes PMDK( tes bakat dan minat)menurut dosen tersebut,  aku ditunggu karena satu-satu paserta dari gresik. Hampir satu jam aku mulai mengerjakan tes dan alhamdulillah selesai. Aku liat kanan kiri gambar teman-teman peserta yang lain begitu bagus- bagus subhanaallah, aku coba bertanya dan kenalan ternyata memang mereka banyak dari sekolah jurusan seni rupa SMSR jadi sudah terlatih tetapi aku tidak patah semangat dan minder walaupun aku dari sma biasa aku yakin aku bisa karena Allah memberikan kemampuan dari masing-masing orang . Setelah selesai alu kembali kegresik bersama teman yanmg mengantarku tadi sambil aku hafalkan jalan-jalan disurabaya karena jika nanti aku diterima tidak mungkin aku minta diantarkan lagi aku harus bisa berangkat sendiri.
Hampir 1 bulan aku menunggu dan menuggu  menyimpan rahasia itu tanpa sepengetahuan orang tua. tiba-tiab aku dipanggil Bapak Kepala sekolah, akupun kaget takutnya ada masalah denganku. Persaanku panik dan takut   aku disodori surat kopnya universitas  negeri surabaya Bapak kepala Sekolah menyuruhku membuka surat tersebut Ternyata alangkah bahagianya tertulis didalam surat itu berbunyi” Ahmad sifin diterima di jurusan seni rupa UNESA lewatr jalur PMDK. Alhamdulillah sujud syukur aku diterima, dan ternyata kebahagiaan itu tak lama  terbersik dalam ingatanku jiak aku belum bilang kalau aku ikut daftar kuliah apalagi langkah selanjutnya kau harus mendaftar ulang bahwa siap untuk kuliah di perguruan tinggi tersebut. Aku pulang kerumah dengan segudang strategi untuk menyampaikan keinginanku untuk elanjutkan  kuliah.setelah samapai dirumah aku mandi sholat aku sempatkan duduk diteras bersama ibukku. Lidahku mulai keluh untuk mengatakan sesuatu. “Emak aku pingin kuliah disurabaya, dengan nada pelan ibukku menjawab “sudahlah tidak usah aneh-aneh,  ikut ngaji (pondok) saja!  enak gak butuh banyak biaya dan juga dekat rumah. Aku bilang “ mak aku ini sudah diterima dijurusan seni rupa mohon maaf kemaren aku daftar tanpa ijin emak” dijawab dengan suara lantang’ kuliah-kuliah memang kuliah itu apa ndak butuh biaya yang banyak! Darimana uang kita ini orang ndak punya buat makan saja susah, apalagi buat kuliah! aku jawab untuk meradam ibu agar direstui” aku nanti bias bantu-bantu ngajar ngelesi privat sambil kerja mak.
 Ibukku pun berfikir sambil berkata” ya sudah nanti kiat bicarakan lagi dengan bapak,  karena bapak belum pulang dari kerja’.
Pagi hari ketika aku bangun sholat subuh sudah siap sarapan pagi biasa orang desa itu kalau makan harus pagi karena setelah makan pagi harus berangkat kesawah atau tambak . Dimeja makan yang terbuat dari bambu  bapak mulai membuka pembicaraan “katanya ibumu kamu mau kuliah apa sudah kau pikirkan dengan matang keputusanmu itu apalagi ambil jurusan Seni Rupa nantinya jadi apa nak? Aku jawab” inggih pak aku mau kuliah jurusan seni rupa, ini keguruan nantinya insyaallah akan jadi guru!”bapak menjawab” apa tidak enak jadi kyai nagaji di pondk saja bisa dekat orang tua lagi, kukliah kok kuliah gambar!” ibukku datang  ke meja “ya sudah bapak ibu merestui kamu untuk kuliah maslah biaya nati kita usahakan tetapi nati jika disana harus hati-hati dan sungguh sungguh karena kamu ini asalnya orang desa oarang yang tidak punya tidak usah macam-macam. Jurusan seni rupa didekat sini saja apa tidak ada tidak usah jauh kesurabaya! Aku jawab “Yang ada disurabya mak! ya sudah jawab emak ”inggih terima kasih bapak, terima kasi ibu! Langsung aku sungkem dan  kuciumi bapak ibukku. Sejak itu aku siapakan berkas- berkasnya untuk mendaftar ulang  dan juga persiapan awal untuk peralatanku kuliah karena aku harus cari tempat kos untuk menginap. sedikit demi sedikit masalah sudah terselasaikan saat nya aku mulai berangakat kuliah. Sekarang aku sudah tahu untuk bisa sampai diketintang tidak perlu lagi harus naik microlet samapi 3 kali, cukup dengan naik bis mini dan bis kota  bisa langsung sampai di jalan ketintang surabaya alamat Kampus UNESA ketintang. Secara kebetulan setelah registrasi ulang aku berdiri dipinggir jalan sambil menunggu angkutan ada seorang mahasiswa senior yang mengajak kenalan, “  dek calon mahasiswa baru ya? darimana? Aku jawab” iya mas dari gresik dia bertanya lagi” sudah dapat kos belum , kalau belum ketempatku saja! Masih ada yang kosong. Namanya untung itu tidak kemana tak perlu mencari malah ditawari, aku teingat kata guruku” kalau orang yang suka menolong natinya akan ditolong orang. Aku ikuti teman baruku mahasiswa senior yang tinggal skripsi saja untuk ngekos ditempatnya. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari kampus cukup jalan hampir 100 meter dari tempat kosku.sehari menjadi mahasiswa telah aku lewati semester demi semester telah aku jalani mulailah menapak perjalan untuk mengejar impianku walaupun tak sesuai dengan keinginan bapakku aku berjanji akan membahagiakan orang tua sebagai balas budi. Tunggulah aku bapakku untuk membahagiakanmu namun aku selesai kuliah kaupergi meninggalkanku selamanya.