Selasa, 15 Mei 2012

DINAMIKA PERKEMBNAGAN SENI KALIGRAFI

Berbeda dengan belahan dunia Islam pada periode-periode yang disebut terdahulu, Indonesia tidak melahirkan corak, gaya atau aliran kaligrafi yang khas. Pertumbuhan yang ada hanyalah pertumbuhan pemakaian kaligrafi yang ada untuk kebutuhan-kebutuhan primer yang bersifat fungsional seperti untuk menyalin Alquran atau teks-teks keagamaan yang berkembang ke aneka lukisan di pelbagai media.
            Dilihat dari dinamika perkembangannya, masa-masa penggunaan dan para seniman kaligrafi di Indonesia dapat dibagi kepada beberapa angkatan:


1.            Angkatan Perintis

kedatangan Islam di Indonesia. Bukti kaligrafi paling tua terdapat pada nisan-nisan kuno yang sebahagiannya dibawa dari luar Indonesia. Sedangkan bukti yang lebih mutakhir diperoleh dari sumber-sumber media seperti kitab, mushaf Alquran tua atau naskah perjanjian (qaulul haq)..
Aksara Arab pada angkatan ini, digunakan pula untuk naskah-naskah berbahasa Melayu atau Indonesia yang disebut Pegon, huruf Jawi atau huruf Melayu. Kaligrafi lafal La ilaha illallah, Muhammadun Rasulullah dikibarkan pula di panji-panji peperangan terbuka antara pasukan Islam dan non-Islam di Nusantara.
Pada abad ke-18 sampai abad ke-20, kaligrafi tidak lagi bersumber pada makam, tetapi beralih kepada kegiatan kreasi seniman Indonesia yang diwujudkan dalam aneka media seperti kertas, kayu, logam, dan medium lainnya. Banyak Alquran tua yang ditulis pada waktu ini seiring hadirnya kertas impor pada abad ke-17.  Sejak abad ke-17 dan sesudahnya, ada kecenderungan seniman muslim untuk menggambar makhluk bernyawa dengan lafal ayat-ayat Alquran, kaul ulama atau simbol kepahlawanan Ali ibn Abi Thalib (kaligrafi Macan Ali) dan Fatimah. Karya seperti ini biasanya merupakan produk keraton Cirebon, Yogyakarta, Surakarta atau Palembang. Sampai tahun 1960-an, lukisan kaligrafi berwujud binatang burak atau wayang banyak ditemukan di pelosok Sumatera dan Jawa.
Sampai akhir periode ini, tidak ada khattat atau seniman kaligrafi yang dikenal namanya. Sementara tipe-tipe huruf yang digunakan mengacu ke gaya-gaya Kufi, Naskhi, Sulus, Muhaqqaq, Raihani, Tauqi, dan Riqa’ yang dikenal di Timur Tengah. Kufi dan Naskhi paling banyak digunakan pada makam dan naskah kuno.


2.            Angkatan Orang Pesantren

Kaligrafi mengalami pertumbuhan seiring pertumbuhan pesantren yang dirintis oleh para wali. Pesantren perintis dikenal antara lain Giri Kedaton, Pesantren Ampel Denta di Gresik, dan Pesantren Syeikh Qura di Karawang. Pelajaran kaligrafi diberikan mengiringi pelajaran Alquran, fikih, tauhid, tasawuf, dan lain-lain. Tulisan yang diajarkan mula-mula sangat sederhana dan belum bernilai estetis, namun masih mempertimbangkan gaya-gaya Kufi, Naskhi, dan Farisi yang asal condong ke kanan.
Kesederhanaan tulisan nampak pada anatomi huruf yang kurang harmoni dengan kaidah, digunakannya peralatan tulis yang bersahaja seperti tinta dari arang kuali atau asap lampu (blendok), dan penggunaan media yang hanya terbatas pada kertas. Pelajaran khat ini umumnya tidak secara resmi diajarkan dan masuk kurikulum, kecuali di beberapa pesantren seperti Pondok Moderen Gontor dan cabang-cabangnya. Buku-buku kaligrafi juga belum banyak dikenal. Buku pelajaran khat pertama keluar tahun 1961 berjudul Tulisan Indah karangan Muhammad Abdul Razzaq Muhili, seorang khattat pertama yang paling aktif menulis khat di buku-buku agama, disusul 10 tahun kemudian (1971) buku Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab karangan Abdul Karim Husein dari Kendal.
Pelopor angkatan ini adalah KHM Abdul Razzaq Muhili dari Tangerang, H. Darami Yunus dari Padang Panjang, H. Salim Bakasir, Prof. HM Salim Fachry (penulis Alquran Pusaka atas titah Presiden Soekarno) dari Langkat, dan KH Rofi’i Karim dari Probolinggo.
Angkatan teraktif yang menyusul kemudian sampai angkatan termuda tahun 1990-an antara lain: Muhammad Sadzali, KHM Faiz Abdul Razzaq dan M. Wasi Abdul Razzaq (ketiganya murid dan anak-anak Abdul Razzaq), K. Mahfuzh Hakim dari Ponorogo, Rahmat Arifin dari Malang, D. Sirojuddin AR (murid Abdul Razzaq dan Salim Fachry) dari Cirebon, Ishak dari Jakarta, Nur Aufa Shiddiq dari Kudus, Ali Akbar dari Purworejo, Chumaidi Ilyas dari Bantul, H. Irhash A. Shamad dari Padang, dan M. Misbahul Munir (murid Rofi’i Karim) dari Gresik. Intensitas pengembangan kaligrafi di Indonesia selanjutnya dipelopori Sirojuddin dengan menulis banyak buku kaligrafi, pelatihan kader di pelbagai wilayah,  dan mendirikan Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Jakarta tahun 1985 dan Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi tahun 1998.
Sejak tahun 1960 hingga 2000-an, pesantren juga memunculkan para khattat yang sering mengkhususkan diri pada penulisan mushaf, buku agama, dan dekorasi masjid dengan mengkombinasi gaya-gaya Sulus, Naskhi, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Kufi, dan Riq’ah. Di antara pelopor dalam bidang ini adalah H. Azhari Noor (dekorator Masjid Agung Al-Azhar Jakarta), H. Amir Hamzah Zaman, dan H. Basyiroen Hasan, disusul angkatan muda seperti Abdul Azis Asmuni, Iskandar Syatiri, Eddy Syakroli, Mahmud Arham, Momon Abdurrahman Syarif, Ujang Badrussalam, Isep Misbah, Edi Amin, Muksin Sudirja, Syaharuddin, dan lain-lain.
Tradisi menghiaskan kaligrafi di bangunan masjid ini tergolong ke masa moderen, sebab dari data sejarah perkembangan masjid kuno di Indonesia, jarang atau tidak ada karya kaligrafi Islam di masjid kuno hingga abad XVI yang asli dibuat di zamannya, kecuali sekedar penggunaan huruf Jawi seperti di Masjid Mantingan, Jepara dan Masjid Sendangduwur di Paciran, Jawa Timur.
 
3.      Angkatan Pendobrak dan Pelukis      

Pada saat masyarakat semakin sadar akan arti dan pentingnya seni kaligrafi, muncullah suatu gerakan untuk “lebih menyadarkan” para khattat/kaligrafer dan seniman, khususnya kalangan muda, untuk lebih meningkatkan apresiasi dan teknik mengolah kaligrafi di aneka media yang tak terbatas. Gerakan ini muncul di tahun 1970-an seiring kemunculan para pelukis yang mempopulerkan apa yang kemudian disebut “lukisan kaligrafi” atau “kaligrafi lukis”, untuk membedakannya dari “kaligrafi murni” atau “kaligrafi tradisional” yang dikenal selama ini.
Pembawa gerakan ini adalah para seniman kampus seni rupa yang dipelopori oleh Ahmad Sadali (ITB Bandung, asal Garut), diiringi kemudian oleh A.D. Pirous (ITB Bandung, asal Aceh), Amri Yahya (ASRI Yogyakarta, asal Palembang), dan Amang Rahman (AKSERA Surabaya, asal Madura). Para tokoh seni rupa ini memanfaatkan keluwesan aksara Arab di mana sosok kaligrafi sangat tegas ditonjolkan dengan penyerasian unsur-unsur rupa lainnya yang telah lebur dalam gaya pribadi masing-masing seniman dengan memandang “kaligrafi sebagai bagian integral” dari ide dasar lukisan yang bermakna religius. Para seniman rupa ini memandang kaligrafi benar-benar mengandung unsur-unsur ideoplastis yang tidak hanya selesai pada huruf.
Popularitas angkatan dan “mazhab kaligrafi lukis” ini mulai muncul dalam Pameran Lukisan Kaligrafi Islam Nasional saat MTQ Nasional XI di Semarang (1979) dan pameran pada Muktamar Pertama Media Massa Islam se-Dunia di Balai Sidang Jakarta (1980) yang diikuti oleh pameran-pameran selanjutnya.
Cara menggarap “lukisan” kaligrafi yang sangat mementingkan latarbelakang pewarnaan yang diperoleh dari kepekaan rasa, bersifat spontan dan bebas sehingga kerap mengabaikan grammar kaligrafi tradisional ini segera saja diikuti secara luas oleh kaula muda di Tanah Air. Pelukis generasi kedua yang muncul kemudian, dapat disebut di antaranya, Syaiful Adnan, Hatta Hambali, dan Abay D. Subarna, disusul kemudian oleh Firdaus Alamhudi, Hendra Buana, Yetmon Amier, Said Akram, Agoes Noegroho, Abdul Aziz Ahmad, dan lain-lain. Teknik baru ini segera menarik dan diikuti para khattat bahkan kalangan yang “sekedar senang” terhadap kaligrafi karena memungkinkan digarap dalam teknik yang bermacam-macam seperti teknik batik dan tekstil, teknik grafis, teknik bulu, teknik ukir kayu, dan bermacam teknik pengerjaan logam, selain tampilan aneka bentuk ekspresi tiga dimensional yang menawarkan citra kaligrafi dalam seni rupa Islam moderen.
Meskipun tidak melahirkan gaya khas Indonesia, kecuali Syaiful Adnan dengan gaya Syaifulinya, beberapa goresan bebas para pelukis kaligrafi Indonesia kerap mendekati pola kaligrafi kontemporer yang lahir bersama kelahiran seni rupa kontemporer tahun 1970-an. Gaya-gaya kaligrafi ini adalah: Kontemporer Tradisional, Kontemporer Figural, Kontemporer Simbolik, Kontemporer Ekspresionis, dan Kontemporer Abstrak.


4.      Angkatan Kader MTQ

Perkembangan kaligrafi semakin semarak sejak dijadikan salahsatu cabang yang dilombakan dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dari tingkat nasional sampai daerah di seluruh Indonesia. Cabang yang diberi nama Musabaqah Khattil Qur’an (MKQ) ini selain menarik peminat, juga berhasil membibitkan kader-kader penulis dan pelukis kaligrafi dari sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Dari sejumlah peserta MKQ yang menyebar di pelbagai daerah, muncul para ahli bidang penulisan naskah, hiasan mushaf, dan dekorasi yang dikompetisikan.
MKQ berpengaruh luas dan menjadi proyek percontohan lomba-lomba kaligrafi di pelbagai instansi dan pada peringatan hari-hari besar Islam. Kemunculan lomba-lomba kaligrafi ini memicu minat di pelbagai kalangan dan ikut mendorong produksi karya di galeri-galeri dan pasar-pasar seni.
Gerakan pembinaan via MTQ yang melahirkan banyak kader dan juara kaligrafi berbuntut pada ramainya keikutsertaan para khattat/khattatah dan seniman kaligrafi Indonesia dalam Peraduan Menulis Khat Asean di Brunei Darussalam dua tahun sekali yang selalu dimenangkan (70 %) oleh peserta dari Indonesia. Beberapa di antara mereka juga tekun mengikuti International Calligraphy Competition di Turki empat tahun sekali. Para pelomba ini sangat menguasai gaya-gaya Naskhi, Sulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Kufi, dan Riq’ah dan umumnya lihai menentukan kombinasi warna-warna dan ornamen yang menjadi komponen lomba.
Dari lomba kaligrafi yang dimulai pada MTQ Nasional XI (1981) di Banda Aceh muncul nama-nama juara yang selanjutnya aktif berkarya di percetakan, pendekorasian masjid, penulisan mushaf, produksi lukisan atau mengajar kaligrafi, dapat disebut di antaranya Darami Yunus, Muhammad Wasi, Mahmud Arham, Humaidi Ilyas, M. Noor Syukron, Ahmad Hawi Hasan, Isep Misbah, Ery Khaeriyah, Yayat Suryati, Ernawati, Nurkholis, Toni Salaf, Moh. Midhar Achsan, Hasanuddin, dan lain-lain.
Para juara aktif MKQ, selain diikuti kader-kader pelomba, telah pula membakar semangat juara-juara lain untuk mengikuti aktifitas mereka

Minggu, 01 April 2012


Seandainya aku jadi pelukis, guru  dan jadi kiyai keinginan bapakku

Berawal dari keinginan orang tua aku masuk di sekolah SMU swasta yang masih kental dengan pendidikan agama karena sekolah tersebut dibawa naungan pondok pesantren tertua di wilayah gresik. Besar keinginanku untuk bisa masuk di sekolah negrei namun orang tuaku selalu ditidak mengijinkan aku untuk pindah mnegambil sekolah negeri. Aku memang tidak tinggal dipondok namun tempat bermainku breda dipondok karena memang teman-temanku banyak anak pondok pesantren. Mulai dari sekolah dasar akun sudah diarahkan untuk sekolah madrasah yang trekenal kental pendidikan agamnya. Dari situ aku sudah terbiasa dengan perilaku dan dat istiadat pesantren. Walaupun aku di SMU namun nuansa pondok masih terasa, dari sekian banyak siswa hampir 50 persen masuk ke PTN ternama karena memang terkenal dengan lulusan dengn nilai terbaik diwilayah tersebut. Saat itu akau kelas 3 SMU semster akhir. Banyak teman-temanku yang mulai bingung menentukan jurusan atau memilih perguruan Tinggi yang akan dipilh  namun tidak ada sedikit fikiran aku untuk bisa melanjutkan kuliah.aku sendiri bingung kenapa teman-temanku selalu memberikan semangat dan banyak informasi supaya aku melanjutkan kuliah.
Dari situlah keinginan untuk kuliah mulai muncul dan mengejar untuk mengejar impian  tumbuh lagi.tidak banyak uang saku yang diberiakn ibukku untuk bekal kesekolah namun aku selalalu sisihkan kusimpan dicelenganku.berawal dari uang 25 ribu aku berngkat kesurabaya tanpa ijin orang tua. Diam-diam aku daftar kuliah lewat jalur PMDK. Kebetulan tetanggaku seorang pelajar STM PAL surabaya menurut pengakuan dia hafal dengan kota Surabaya paling tidak tahu tentang surabaya yang begitu metropolitan dalam bayangnku urabaya sama halnya dengan jakarta karena memang aku jarang kesurabaya mungkin beberapa tahun yang lalu saat akau SD  kekebun binatang itu yang aku ingat. karena dorongan teman temanku di kelas 3 IPA kebetulan masuk jurusan  itu. Mereka  selalu memberikan semangat kepadaku untuk melanjutkan kuliah dijurusan seni rupa karena sudah terlihat bakat dan kemampuanku dibidang seni, Tinggal 3 hari penutupan  aku putuskan berangkat.aku berangkat pagi-pagi untuk mengejar waktu supaya sampai disurabaya tidak terlalu siang. Untuk mendapatkan legalisir rapot dan pengantar dari sekolahku tidak Cuma-Cuma, aku harus menyelesaikan papan-papan data untuk ditulis lagi karena adanya akreditasi sekolah sebelum dapt tanda tangan dari Kepala sekolah waktu itu. Butuh waktu hampir 2 hari untuk mengerjakan karena memang sudah dikenal kalau tulisanku lumayan bagus disekolah yang biasa membuat dekorasai acara disekolah. 
 Sangat disayangkan memang aku berangkat tanpa ijin sama ibukku, sesampai diterminal aku bingung begitu ramai lalu lalang orang dengan wajah muram garang tampa ada rasa saling sayang. Setelah naik bus mini akau mulai mencari microlet bersama temanku yan g mengantarku, aku sendiri belum tahu alamat ketintang itu dimana? Menurut temanku untuk sampai disana harus naik bis mini dulu lalu naik microlet sebanya k 3 kali baru bisa sampai diketintang. Benar aku naik bis mini dulu lalu naik  3 microlet baru  aku sampai diketintang hampir jam 10 pagi padahal, aku berangkat jam 6 pagi dari rumah. Ternyata ditempat  tes tersebut sudah dimulai dari jam 8 jadi aku terlambat petugas memang mengoda kalau pendaftaran sudah ditutup, Dan tidak diperbolehkan aku masuk mengikuti tes. Tetapi ada seorang dosen senior yang mendekatiku dan menayakan dari mana mas? Saya menjawab ‘”maaf saya terlamabat ibu, karena saya dari gresik” dan akhirnya dosen itu mempersilahkanaku masuk mengikuti tes PMDK( tes bakat dan minat)menurut dosen tersebut,  aku ditunggu karena satu-satu paserta dari gresik. Hampir satu jam aku mulai mengerjakan tes dan alhamdulillah selesai. Aku liat kanan kiri gambar teman-teman peserta yang lain begitu bagus- bagus subhanaallah, aku coba bertanya dan kenalan ternyata memang mereka banyak dari sekolah jurusan seni rupa SMSR jadi sudah terlatih tetapi aku tidak patah semangat dan minder walaupun aku dari sma biasa aku yakin aku bisa karena Allah memberikan kemampuan dari masing-masing orang . Setelah selesai alu kembali kegresik bersama teman yanmg mengantarku tadi sambil aku hafalkan jalan-jalan disurabaya karena jika nanti aku diterima tidak mungkin aku minta diantarkan lagi aku harus bisa berangkat sendiri.
Hampir 1 bulan aku menunggu dan menuggu  menyimpan rahasia itu tanpa sepengetahuan orang tua. tiba-tiab aku dipanggil Bapak Kepala sekolah, akupun kaget takutnya ada masalah denganku. Persaanku panik dan takut   aku disodori surat kopnya universitas  negeri surabaya Bapak kepala Sekolah menyuruhku membuka surat tersebut Ternyata alangkah bahagianya tertulis didalam surat itu berbunyi” Ahmad sifin diterima di jurusan seni rupa UNESA lewatr jalur PMDK. Alhamdulillah sujud syukur aku diterima, dan ternyata kebahagiaan itu tak lama  terbersik dalam ingatanku jiak aku belum bilang kalau aku ikut daftar kuliah apalagi langkah selanjutnya kau harus mendaftar ulang bahwa siap untuk kuliah di perguruan tinggi tersebut. Aku pulang kerumah dengan segudang strategi untuk menyampaikan keinginanku untuk elanjutkan  kuliah.setelah samapai dirumah aku mandi sholat aku sempatkan duduk diteras bersama ibukku. Lidahku mulai keluh untuk mengatakan sesuatu. “Emak aku pingin kuliah disurabaya, dengan nada pelan ibukku menjawab “sudahlah tidak usah aneh-aneh,  ikut ngaji (pondok) saja!  enak gak butuh banyak biaya dan juga dekat rumah. Aku bilang “ mak aku ini sudah diterima dijurusan seni rupa mohon maaf kemaren aku daftar tanpa ijin emak” dijawab dengan suara lantang’ kuliah-kuliah memang kuliah itu apa ndak butuh biaya yang banyak! Darimana uang kita ini orang ndak punya buat makan saja susah, apalagi buat kuliah! aku jawab untuk meradam ibu agar direstui” aku nanti bias bantu-bantu ngajar ngelesi privat sambil kerja mak.
 Ibukku pun berfikir sambil berkata” ya sudah nanti kiat bicarakan lagi dengan bapak,  karena bapak belum pulang dari kerja’.
Pagi hari ketika aku bangun sholat subuh sudah siap sarapan pagi biasa orang desa itu kalau makan harus pagi karena setelah makan pagi harus berangkat kesawah atau tambak . Dimeja makan yang terbuat dari bambu  bapak mulai membuka pembicaraan “katanya ibumu kamu mau kuliah apa sudah kau pikirkan dengan matang keputusanmu itu apalagi ambil jurusan Seni Rupa nantinya jadi apa nak? Aku jawab” inggih pak aku mau kuliah jurusan seni rupa, ini keguruan nantinya insyaallah akan jadi guru!”bapak menjawab” apa tidak enak jadi kyai nagaji di pondk saja bisa dekat orang tua lagi, kukliah kok kuliah gambar!” ibukku datang  ke meja “ya sudah bapak ibu merestui kamu untuk kuliah maslah biaya nati kita usahakan tetapi nati jika disana harus hati-hati dan sungguh sungguh karena kamu ini asalnya orang desa oarang yang tidak punya tidak usah macam-macam. Jurusan seni rupa didekat sini saja apa tidak ada tidak usah jauh kesurabaya! Aku jawab “Yang ada disurabya mak! ya sudah jawab emak ”inggih terima kasih bapak, terima kasi ibu! Langsung aku sungkem dan  kuciumi bapak ibukku. Sejak itu aku siapakan berkas- berkasnya untuk mendaftar ulang  dan juga persiapan awal untuk peralatanku kuliah karena aku harus cari tempat kos untuk menginap. sedikit demi sedikit masalah sudah terselasaikan saat nya aku mulai berangakat kuliah. Sekarang aku sudah tahu untuk bisa sampai diketintang tidak perlu lagi harus naik microlet samapi 3 kali, cukup dengan naik bis mini dan bis kota  bisa langsung sampai di jalan ketintang surabaya alamat Kampus UNESA ketintang. Secara kebetulan setelah registrasi ulang aku berdiri dipinggir jalan sambil menunggu angkutan ada seorang mahasiswa senior yang mengajak kenalan, “  dek calon mahasiswa baru ya? darimana? Aku jawab” iya mas dari gresik dia bertanya lagi” sudah dapat kos belum , kalau belum ketempatku saja! Masih ada yang kosong. Namanya untung itu tidak kemana tak perlu mencari malah ditawari, aku teingat kata guruku” kalau orang yang suka menolong natinya akan ditolong orang. Aku ikuti teman baruku mahasiswa senior yang tinggal skripsi saja untuk ngekos ditempatnya. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari kampus cukup jalan hampir 100 meter dari tempat kosku.sehari menjadi mahasiswa telah aku lewati semester demi semester telah aku jalani mulailah menapak perjalan untuk mengejar impianku walaupun tak sesuai dengan keinginan bapakku aku berjanji akan membahagiakan orang tua sebagai balas budi. Tunggulah aku bapakku untuk membahagiakanmu namun aku selesai kuliah kaupergi meninggalkanku selamanya.

Kamis, 29 Desember 2011

Jalaluddin Rumi 
Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.

Karya

Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.
Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.
Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.
Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah :
jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.

Selasa, 29 November 2011

Seandainnya aku jadi penulis dan guru


Seandainnya aku jadi penulis dan guru
                                                                 diganti
Seandainya aku jadi pelukis, guru  dan jadi kiyai keinginan bapakku
Menulis itu adalah sebuah aktifitas  pekerjaan yang tak pernah terpikir bahwa itu adalah mudah dilakukan saat kita sedang bekerja. Sudah lama menjadi guru belum tentu kita merasa pernah menulis, menulis itu bisa terjadi karena paksaan atau muncul karena hobby sehingga apa yang kita lakukan atau yang kita fikirkan tentang ide kreatif kita bisa ditulis. Saat disekolah sering kita berkomunikasi dengan orang tua melalui  tulisan kadang saling berbalas sampai beberapa lembar, semasa muda ada temanku yang rutin disetiap aktifitasnta terekam dalam buku diare tanpa terlewatkan setiap harinya aktifitasnya yang baik dan  yang jelek tertulis disana terutama masa muda lebih menjurus ketema asmara.
Sudah sering aku coba menulis setiap aktifitasku semasa aku kuliah namun tak tertahan lama, kebetulan aku senang dengan membuat katalog pameran  dalam isian pengantar biasanya aku coba untuk membuat isian pengantar sesuai dengan katalog yang ditulis  dengan bahasa kurator yang baik sehingga  begitu bagus. Sempat aku coba membuat cerita tentang diriku dan perjalan hidupku yang masih  seujung kuku. Memang perlu menyisihkan  waktu  untuk menulis, harapan bisa dibaca tak hanya untuk dirikita atau kleuarga tapi bisa bermanfaat bagi yang lainnya. Sebuah tulisan singkat tentamg perjalannku sebelum menjadi pelukis bukan penulis sesuai dengan permaintaan andai akau jadi penulis dan guru. Guru memang sering menulis  tetapi mungkin menulis yang dimaksud bukan itu aku tahu menulis yang sering dilakuakan teman teman terutama guru bahasa indonesia yang piawai memainkan kata dalam tulisannya sehingga bisa dimuat dibeberapa surat kabar dan majalah ternama. memang butuh waktu ketika kita sudah disekolah  anak-anaklah yang utama ketika kita sampai dirumah terasa capek dan cengkrama bersama keluargalah obatnya.
Mungkin semua beranggapan bahwa menulis itu menunggu inspirasi datang ketika ingin menuangkan karya tulisannya, seperti halnya aku melukis. Sudah hampir seminggu kanvas itu kosong walaupun cat, kuas dan alat-alat yang lain sudah siap  mununggu diruang lukisku tapi hasrat untuk itu belum ada. tetapi jika keinginnan itu muncul tengah malam pun mulai bekerja untuk melukiskan ide. Kadang harus dipaksa sehingga  nanti dengan berjalan muncul ide-ide baru. Aku rasa  menulis itu seperti itu gampang-gampang susah  kalau kita bisa menjalani dengan senang dan rutin kayaknya ide itu akan muncul terus. Seperti halnya melukis sering dilakukan  akan menambah ekploras kita tentang ide dan gagasan dalam membentuk sebuah karya. Tentunya kita butuh modal yaitu membaca. Seperti halnya melukis butuh inspitrasi dari apa yang kiata liahat seperti melihat pameran katalog-katalog pameran sebagai perbandingan sehingga bisa mngikuti perkembangan. Ini aku coba belajar menulis
Berawal dari uang 25 ribu aku berngkat kesurabaya tanpa ijin orang tua. Diam-diam aku daftar kuliah lewat jalur PMDK. Kebetulan tetanggaku seorang pelajar STMPAL surabaya menurut pengakuan dia hafal dengan kota surabaya paling tidak tahu tentang surabaya yang begitu metropolitan dalam bayangnku surabaya sama halnya dengan jakarta karena memang aku jarang kesurabaya mungkin beberapa tahun yang lalu saat akau SD  kekebun binatang itu yang aku ingat. karena dorongan temen temanku di kelas 3 IPA kebetulan masuk jurusan  itu. Mereka  selalu memberikan semangat kepadaku untuk melanjutkan kuliah dijurusan seni rupa karena sudah terlihat bakat dan kemampuanku dibidang seni, Tinggal 3 hari penutupan  aku putuskan berangkat.aku berangkat pagi-pagi untuk mengejar waktu supaya sampai disurabaya tidak terlalu siang. Untuk mendapatkan legalisir rapot dan pengantar dari sekolahku tidak Cuma-Cuma, aku harus menyelesaikan papan-papan data untuk ditulis lagi karena adanya akreditasi sekolah sebelum dapt tanda tangan dari Kepala sekolah waktu itu. Butuh waktu hampir 2 hari untuk mengerjakan karena memang sudah dikenal kalau tulisanku lumayan bagus disekolah yang biasa membuat dekorasai acara disekolah. 
 Sangat disayangkan memang aku berangkat tanpa ijin sama ibukku, sesampai diterminal aku bingung begitu ramai lalu lalang orang dengan wajah muram garang tampa ada rasa saling sayang. Setelah naik bus mini akau mulai mencari microlet bersama temanku yan g mengantarku, aku sendiri belum tahu alamat ketintang itu dimana? Menurut temanku untuk sampai disana harus naik bis mini dulu lalu naik microlet sebanya k 3 kali baru bisa sampai diketintang. Benar aku naik bis mini dulu lalu naik  3 microlet baru  aku sampai diketintang hampir jam 10 pagi padahal, aku berangkat jam 6 pagi dari rumah. Ternyata ditempat  tes tersebut sudah dimulai dari jam 8 jadi aku terlambat petugas memang mengoda kalau pendaftaran sudah ditutup, Dan tidak diperbolehkan aku masuk mengikuti tes. Tetapi ada seorang dosen senior yang mendekatiku dan menayakan dari mana mas? Saya menjawab ‘”maaf saya terlamabat ibu, karena saya dari gresik” dan akhirnya dosen itu mempersilahkanaku masuk mengikuti tes PMDK( tes bakat dan minat)menurut dosen tersebut,  aku ditunggu karena satu-satu paserta dari gresik. Hampir satu jam aku mulai mengerjakan tes dan alhamdulillah selesai. Aku liat kanan kiri gambar teman-teman peserta yang lain begitu bagus- bagus subhanaallah, aku coba bertanya dan kenalan ternyata memang mereka banyak dari sekolah jurusan seni rupa SMSR jadi sudah terlatih tetapi aku tidak patah semangat dan minder walaupun aku dari sma biasa aku yakin aku bisa karena Allah memberikan kemampuan dari masing-masing orang . Setelah selesai alu kembali kegresik bersama teman yanmg mengantarku tadi sambil aku hafalkan jalan-jalan disurabaya karena jika nanti aku diterima tidak mungkin aku minta diantarkan lagi aku harus bisa berangkat sendiri.
Hampir 1 bulan aku menunggu dan menuggu  menyimpan rahasia itu tanpa sepengetahuan orang tua. tiba-tiab aku dipanggil Bapak Kepala sekolah, akupun kaget takutnya ada masalah denganku. Persaanku panik dan takut   aku disodori surat kopnya universitas  negeri surabaya Bapak kepala Sekolah menyuruhku membuka surat tersebut Ternyata alangkah bahagianya tertulis didalam surat itu berbunyi” Ahmad sifin diterima di jurusan seni rupa UNESA lewatr jalur PMDK. Alhamdulillah sujud syukur aku diterima, dan ternyata kebahagiaan itu tak lama  terbersik dalam ingatanku jiak aku belum bilang kalau aku ikut daftar kuliah apalagi langkah selanjutnya kau harus mendaftar ulang bahwa siap untuk kuliah di perguruan tinggi tersebut. Aku pulang kerumah dengan segudang strategi untuk menyampaikan keinginanku untuk elanjutkan  kuliah.setelah samapai dirumah aku mandi sholat aku sempatkan duduk diteras bersama ibukku. Lidahku mulai keluh untuk mengatakan sesuatu. “Emak aku pingin kuliah disurabaya, dengan nada pelan ibukku menjawab “sudahlah tidak usah aneh-aneh,  ikut ngaji (pondok) saja!  enak gak butuh banyak biaya dan juga dekat rumah. Aku bilang “ mak aku ini sudah diterima dijurusan seni rupa mohon maaf kemaren aku daftar tanpa ijin emak” dijawab dengan suara lantang’ kuliah-kuliah memang kuliah itu apa ndak butuh biaya yang banyak! Darimana uang kita ini orang ndak punya buat makan saja susah, apalagi buat kuliah! aku jawab untuk meradam ibu agar direstui” aku nanti bias bantu-bantu ngajar ngelesi privat sambil kerja mak.
 Ibukku pun berfikir sambil berkata” ya sudah nanti kiat bicarakan lagi dengan bapak,  karena bapak belum pulang dari kerja’.
Pagi hari ketika aku bangun sholat subuh sudah siap sarapan pagi biasa orang desa itu kalau makan harus pagi karena setelah makan pagi harus berangkat kesawah atau tambak . Dimeja makan yang terbuat dari bambu  bapak mulai membuka pembicaraan “katanya ibumu kamu mau kuliah apa sudah kau pikirkan dengan matang keputusanmu itu apalagi ambil jurusan Seni Rupa nantinya jadi apa nak? Aku jawab” inggih pak aku mau kuliah jurusan seni rupa, ini keguruan nantinya insyaallah akan jadi guru!”bapak menjawab” apa tidak enak jadi kyai nagaji di pondk saja bisa dekat orang tua lagi, kukliah kok kuliah gambar!” ibukku datang  ke meja “ya sudah bapak ibu merestui kamu untuk kuliah maslah biaya nati kita usahakan tetapi nati jika disana harus hati-hati dan sungguh sungguh karena kamu ini asalnya orang desa oarang yang tidak punya tidak usah macam-macam. Jurusan seni rupa didekat sini saja apa tidak ada tidak usah jauh kesurabaya! Aku jawab “Yang ada disurabya mak! ya sudah jawab emak ”inggih terima kasih bapak, terima kasi ibu! Langsung aku sungkem dan  kuciumi bapak ibukku. Sejak itu aku siapakan berkas- berkasnya untuk mendaftar ulang  dan juga persiapan awal untuk peralatanku kuliah karena aku harus cari tempat kos untuk menginap. sedikit demi sedikit masalah sudah terselasaikan saat nya aku mulai berangakat kuliah. Sekarang aku sudah tahu untuk bisa sampai diketintang tidak perlu lagi harus naik microlet samapi 3 kali, cukup dengan naik bis mini dan bis kota  bisa langsung sampai di jalan ketintang surabaya alamat Kampus UNESA ketintang. Secara kebetulan setelah registrasi ulang aku berdiri dipinggir jalan sambil menunggu angkutan ada seorang mahasiswa senior yang mengajak kenalan, “  dek calon mahasiswa baru ya? darimana? Aku jawab” iya mas dari gresik dia bertanya lagi” sudah dapat kos belum , kalau belum ketempatku saja! Masih ada yang kosong. Namanya untung itu tidak kemana tak perlu mencari malah ditawari, aku teingat kata guruku” kalau orang yang suka menolong natinya akan ditolong orang. Aku ikuti teman baruku mahsiswa senior yang tinggal skripsi saja untuk ngekos ditempatnya. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari kampus cukup jalan hampir 100 meter dari tempat kosku.
                                                                BERSAMBUNG
Karya: Ahmad Sifin S.pd

Selasa, 27 September 2011

lukisan kaligrafi SAID AKRAM

Jakarta – Said Akram adalah salah satu dari perupa kaligrafi nasional yang tetap bertahan dan konsisten ditengah tengah serbuan badai senilukis kontemporer dikenal dengan style lukisan lukisan kaligrafi yang menonjolkan dan mengambil efek lelehan air atau akar yang membulat dan mengalir. Akram studio yang bekerjasama dengan Galeri Nasional akan menggelar Pameran Tunggal lukisan Kaligrafi dengan tema “Berbicara melalui Karya”, pada kamis (04/12) pukul 20.00, WIB diresmikan oleh Bapak DR. H. MS. Kaban, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, dan pidato kebudyaan akan disampaikan oleh Bapak A.D. Pirous, bertempat di Galeri Nasional Indonesia Jln. Medan merdeka Timur No.14 Jakarta, pemeran akan berlangsung sejak pembukaan kamis, (04/12) sampai dengan tanggal (16/12). Sebut Said Akram Kepada Wartawan, Rabu (03/12)

Said Akram Menjelaskan Kehadiran Pameran Tunggal ini adalah merupakan sebuah keberhasilan yang sangat luar biasa menilik pameran tunggal dari kalangan pelukis kaligrafi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pelukis A.D Pirous saja yang melakukan hajatan besarnya dalam sebuah pameran akbar yang berdimensi retrospektif beberapa tahun lalu. Ini merupakan sebuah terobosan yang sangat membantu dalam membangun keaneka ragaman ekspresi dan dinamika berkesenian untuk lebih mewarnai kemajemukan kegiatan seni lukis dewasa ini yang lebih banyak didominasi oleh pameran pameran lukisan figuratif yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri, umumnya berasal dari perupa China yang silih berganti dilangsungkan di Galeri Nasional ini. Jelas Alumni ISI jokjakarta ini.


Merwan Yusuf sebagai art curator Pameran tunggal Said Akram, beliau mengatakan sudah sejak awal memang lukisan atau drawing yang menggambarkan tentang tanda tanda dalam bentuk yang mempunyai arti tersendiri dan mewakili suatu ide dan ungkapan, adalah temuan pertama manusia untuk mewujudkan kemampuan mencipta yang ditujukan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama. Said Akram adalah salah satu dari perupa kaligrafi nasional yang tetap bertahan dan konsisten ditengah tengah serbuan badai senilukis kontemporer, Aceh menjadi tempat ia bekerja dengan suasana yang lebih kondusif dan lingkungan untuk bisa lebih fokus dan berkontemplasi mewujudkan ide dan gagasan yang nantinya akan direalisir menjadi karya visual. Sudah sejak lulus dari ISI Yogyakarta dan berkiprah sebagai professional artist ia sangat dikenal dengan style lukisan lukisan kaligrafi yang menonjolkan dan mengambil efek lelehan air atau akar yang membulat dan mengalir, ia berhasil keluar dari kepungan pakem pakem penulisan kaligrafi baku yang pernah ada sebelumnya. Bentuk olahan kaligrafi yang seperti itu kemudian memunculkan ciri khas kaligrafi yang memaksimalkan terbentuknya volume dan efek grafitasi.

Merwan Menambahkan, Karya karya yang di hadirkan said akram diruang pameran tunggalnya di Galeri Nasional mengandung pesan pesan moral dan spiritual melalui ekspresi keindahan huruf dari ayat ayat Al Quran dan penggambaran bentuk alam yang tercabik cabik. Ia juga mengajak kita untuk menikmati dan mengapresiasi dunia huruf arab dan kaligrafi baru yang menjadi style pribadinya. Said adalah salah seorang kontributor pengayaan corak kaligrafi yang sangat personal serta telah memperkaya khasanah seni lukis kaligrafi Nasional maupun Internasional, sebut Art curator ini.

Akram seorang pelukis kelahiran Pidie, Aceh. Merupakan generasi terakhir yang konsisten dengan pilihan lukisan khattiya ini pasca-Sadali, dan A.D. Pirous. Akram memiliki zamannya sendiri untuk menilai dan berekspresi pada aliran ini sehingga melahirkan karya-karya inovatifnya yang orisinil, tidak mengekor kepada para pendahulu. Akram adalah anak yang telah dimandikan oleh nilai-nilai religiositas yang kuat. Putera Aceh yang basah dengan tradisi Islam puritan. Ayahnya pakar kaligrafi terkenal, beliau dikenal luas sebagai seorang yang paham sejarah Islam dan sekaligus sebagai seorang “Pentasih” nasional yaitu suatu keahlian yang dapat membaca dengan benar dan mengkoreksi tulisan tulisan arab. Said Akram adalah wajah masa depan seni lukis kaligrafi Indonesia. Pameran tunggal ini menjadi penting bagi Akram untuk mentasbihkan mazhab dan gaya kaligrafinya dalam percaturan seni lukis kaligrafi dunia.

Jakarta, 03 Desember 2008

SAID AKRAM

Selasa, 13 September 2011

KALIGRAFI TAK PERNAH MATI

Merosot Sejak Era Amri Yahya
Surabaya – Surabaya Post. Perkembangan dunia seni lukis di Jawa Timur (Jatim), terutama kaligrafi dikatakan oleh salah seorang pelakunya, tidak akan pernah mati. Namun bagi pelukis lain, meski tidak akan pernah mati namun juga tidak “hidup”. Perkembangannya semakin merosot jika dibandingkan dengan tahun 1980-1985 an.

Saat itu, dunia seni lukis kaligrafi terlihat menonjol dan gaungnya juga tidak hanya Jatim tapi menasional. “Apalagi saat itu masih getol-getolnya Amri Yahya (Jogjakarta) dan AP Pirous (Bandung),” kata pelukis kaligrafi senior dari Kediri, M Djuhandi Djauhar yang ditanya tentang perkembangan dunia kaligrafi saat ini (Surabaya Post, 4 September).

Pada saat itu, tambah pria kelahiran Kota Tahu pada 1948 ini, dukungan dan antusias pelukis bergitu terlihat. “Pak Amri dan Pak Pirous, adalah maestro yang jasanya terhadap perkembangan seni kaligrafi Indonesia begitu besar,” jelas Djuhandi yang ditemui saat mempersiapkan pameran bersama di Galeri Surabaya (GS) – Kompleks Balai Pemuda, mulai Jumat (5/9) ini.

Namun sejak kurang berkiprahnya dua pelukis itu, termasuk meninggalnya Amri Yahya, kondisi atau perkembangan dunia seni lukis kaligrafi terus merosot hingga kini. Pameran, kata dia, juga jarang sekali. Kalaupun ada, hampir selalu dikaitkan dengan peristiwa atau hari besar Islam. “Seperti saat Ramadan begini,” kata dia.

Padahal, kata Mantan Pengawas Pendidikan Agama Islam Kandepag, Kediri, hal itu tidak perlu dilakukan. Tidak harus menunggu hari besar Islam atau puasa. Kalau mau pameran, ya pameran saja. Karya yang dihadirkan juga tidak usah dibedakan antara kaligrafi dan lukisan lainnya, baik kontemporer atau pemnadangan.

Rupanya, tambah pelukis kaligrafi lainnya, Bambang Tri ES, kondisi ini sepertinya belum disadari banyak pelukis. Sehingga, kalau pameran juga selalu mencari suasana yang pas, termasuk seperti pameran di GS ini.

Kalau tentang pasar, baik Djuhandi maupun Bambang Tri, sama-sama mengatakan, masih kalah jauh dengan lukisan lain, terutama kontemporer. Namun keduanya, termasuk pelukis lain yang kini pameran di GS, berusaha mengangkat lukisan kaligrafi ke masyarakata. Salah satu caranya juga dengan pameran. Untuk selanjutnya, mereka akan berpameran lebih sering dan tidak terkait dengan hari besar keagamaan, khususnya Islam.

“Seperti AD Pirous itu, meski karyanya dikenal kaligrafi, namun pameran juga dilakukan di mana-mana. Tidak membedakan aliran. Karya Pak Pirous juga tetap mempunyai apresiasi tinggi. Ini yang perlu disadari oleh teman-teman pelukis,” jelas Bambang yang dalam pemerannya menampilkan QS Al Baqoroh 45.

Pameran yang digelar di GS hingga 13 September, tambah Djuhandi, mestinya ada sembilan orang. Namun yang ikut hanya enam orang. Salah seorang pelukis yang dianggap sebagai penggagas, Paib dari Bawean, tidak bisa ikut, karena ada kesibukan di Kuala Lumpur (KL) Malaysia yang tidak bisa ditinggalkan.

Kelompok yang pameran di GS dengan tema “FirmanMu Sumber Keteduhan Hati” ini, rencananya tidak hanya pameran di Jatim dan Indonesia saja tapi juga ke luar negeri. Dan keliling Asia Tenggara. “Mudah-mudahan setelah Pak Paib datang, perencanaan bisa dilanjutkan,” kata dia.(gim)
Surabaya Post, Jumat 05/09/2008 – 10:48:46 |